“Semua sudah tercantum dalam rencana desainnya. Saat ini alat-alat berat sudah mulai bekerja, dan seluruh kegiatan masih pada tahap pengerjaan fondasi,” kata Malik.

Malik menjelaskan, seluruh siswa yang saat ini belajar di 16 Sekolah Rakyat rintisan akan dipindahkan ke bangunan permanen yang sedang dibangun.

Bangunan tersebut berada di daerah yang sebelumnya telah memiliki Sekolah Rakyat rintisan, mengingat siswa yang terdaftar harus berasal dari wilayah setempat.

“Jika seluruh siswa sudah dipindahkan ke sekolah permanen, maka bangunan rintisan akan dikembalikan kepada pemilik lahannya. Saat ini sudah ada siswa eksisting yang sudah berjalan. Semua siswa tersebut akan dipindahkan ke sekolah baru. Kemudian pada tahun ajaran 2026–2027, kita juga akan merekrut siswa baru untuk jenjang SD, SMP, dan SMA. Dengan demikian, kelas dua sudah terisi,” jelas Malik.

Berdasarkan aturan sementara, setiap Sekolah Rakyat permanen untuk jenjang SD terdiri atas tiga rombongan belajar dengan total 90 siswa.

Ketentuan yang sama juga berlaku untuk jenjang SMP dan SMA, masing-masing tiga rombongan belajar dengan satu rombel berisi 30 siswa.

Dengan demikian, setiap jenjang pendidikan akan menampung sekitar 90 siswa.

“Dari sembilan Sekolah Rakyat yang dibangun saat ini, semuanya lengkap. Ada SD, SMP, dan SMA,” tandas Malik. (*)

YouTube player