Pembangunan 9 Sekolah Rakyat di Sulsel Masuki Tahap Konstruksi, Anggaran Capai Rp2,3 Triliun
RAKYAT.NEWS, MAKASSAR – Pembangunan Sekolah Rakyat (SR) permanen di Sulawesi Selatan (Sulsel) resmi memasuki tahap konstruksi.
Sebanyak sembilan Sekolah Rakyat mulai dibangun dengan total anggaran mencapai Rp2,3 triliun melalui skema multi years contract tahun 2025–2026.
Kepala Satuan Kerja Prasarana Strategis Sulsel Direktorat Jenderal Prasarana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Iwan, menjelaskan bahwa sembilan Sekolah Rakyat tersebut dibagi ke dalam dua paket pekerjaan.
Paket pertama mencakup lima daerah, yakni Kabupaten Sidrap, Wajo, Soppeng, Tana Toraja, dan Barru. Sementara paket kedua meliputi Kota Makassar serta Kabupaten Takalar, Sinjai, dan Bone.
“Besar anggarannya untuk paket satu itu yang lima titik tadi itu Rp1,2 triliun, sementara yang paket dua itu Rp972 miliar,” terang Iwan kepada awak media.
Ia menyebutkan, masing-masing Sekolah Rakyat dibangun dengan anggaran berkisar antara Rp220 miliar hingga Rp250 miliar.
Perbedaan nilai anggaran tersebut dipengaruhi oleh luas lahan yang disiapkan pemerintah daerah.
Fasilitas yang akan dibangun, termasuk sarana olahraga seperti lapangan sepak bola, juga menyesuaikan dengan luasan lahan yang tersedia.
Iwan menambahkan, prioritas pembangunan Sekolah Rakyat permanen saat ini difokuskan pada daerah yang telah memiliki Sekolah Rakyat rintisan.
Salah satu progres pembangunan dapat dilihat di Jalan Pajjaiang, Kota Makassar.
Berdasarkan pantauan di lapangan, Kamis (8/1/2026), tahapan konstruksi bangunan telah dimulai.
“Sudah jalan (tahap konstruksi) semua. Tergantung luas lahan yang tersedia,” ujar Iwan saat dikonfirmasi, Kamis (8/1/2026).
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Sulawesi Selatan, Abdul Malik Faisal, mengungkapkan bahwa sebagian lokasi pembangunan telah memasuki tahap pematangan lahan dan penguatan tanah yang labil.
Seluruh proses konstruksi ditargetkan rampung pada Juni 2026 agar dapat digunakan pada Juli 2026 untuk angkatan kedua Sekolah Rakyat tahun ajaran 2026–2027.
“Semua sudah tercantum dalam rencana desainnya. Saat ini alat-alat berat sudah mulai bekerja, dan seluruh kegiatan masih pada tahap pengerjaan fondasi,” kata Malik.
Malik menjelaskan, seluruh siswa yang saat ini belajar di 16 Sekolah Rakyat rintisan akan dipindahkan ke bangunan permanen yang sedang dibangun.
Bangunan tersebut berada di daerah yang sebelumnya telah memiliki Sekolah Rakyat rintisan, mengingat siswa yang terdaftar harus berasal dari wilayah setempat.
“Jika seluruh siswa sudah dipindahkan ke sekolah permanen, maka bangunan rintisan akan dikembalikan kepada pemilik lahannya. Saat ini sudah ada siswa eksisting yang sudah berjalan. Semua siswa tersebut akan dipindahkan ke sekolah baru. Kemudian pada tahun ajaran 2026–2027, kita juga akan merekrut siswa baru untuk jenjang SD, SMP, dan SMA. Dengan demikian, kelas dua sudah terisi,” jelas Malik.
Berdasarkan aturan sementara, setiap Sekolah Rakyat permanen untuk jenjang SD terdiri atas tiga rombongan belajar dengan total 90 siswa.
Ketentuan yang sama juga berlaku untuk jenjang SMP dan SMA, masing-masing tiga rombongan belajar dengan satu rombel berisi 30 siswa.
Dengan demikian, setiap jenjang pendidikan akan menampung sekitar 90 siswa.
“Dari sembilan Sekolah Rakyat yang dibangun saat ini, semuanya lengkap. Ada SD, SMP, dan SMA,” tandas Malik. (*)


Tinggalkan Balasan Batalkan balasan